Budaya Jepang

Japanese Culture : Darumasan Ga Koronda

Darumasan Ga Koronda merupakan permainan rakyat Jepang yang bisa dimainkan oleh tiga orang atau lebih. Permainan sangat terkenal sampai penjuru dunia, disetiap negara hampir ada permainan semacam ini namun dengan bahasa negara mereka masing – masing pastinya.

Darumasan Ga Koronda sendiri memiliki arti “Boneka Daruma Jatuh”. Ada satu penjaga pos disebut juga Oni yang menyebutkan kata “Darumasan Ga Koronda”. Peserta lainnya berusaha untuk menepuk belakang sang Oni, pemain lain hanya dapat bergerak saat Oni mengucapkan kata Darumasan Ga Koronda. Setelah mengucapkan kata tersebut, oni berhak untuk melihat kebelakang untuk mengeluarkan pemain yang ketahuan bergerak.

Darumasan Ga Koronda

Peraturan

Penjaga pos adalah seorang pemain yang kalah dalam janken. Pos jaga dapat berupa batang pohon atau dinding. Permainan dimulai pemain dari garis start yang ditentukan bersama. Para pemain berteriak, “Hajime no ippo” (“Langkah pertama”), dan meloncat satu langkah ke arah yang diingini, biasanya menuju ke arah penjaga pos.

Penjaga pos menghadap ke pos jaga ketika mengucapkan Daruma-san ga koronda, dan tidak dapat melihat pemain yang mendekatinya dari belakang. Para pemain berlari atau berjalan sedikit demi sedikit mendekati penjaga pos, ketika penjaga pos sedang meneriakkan kalimat Daruma-san ga koronda. Setelah suku kata terakhir selesai diucapkan, penjaga pos berbalik ke arah pemain, dan mencari pemain yang masih bergerak. Ketika penjaga pos sedang melihat, pemain harus menghentikan semua gerakan dan diam seperti patung. Bila ada pemain yang bergerak, penjaga pos menangkap pemain tersebut dengan mengucapkan namanya.

Peserta yang sudah tertangkap harus pergi ke pos sebagai tawanan, dan menunggu hingga dibebaskan. Tawanan pertama harus bergandengan sebelah tangan dengan penjaga pos, sementara sebelah tangan lainnya memegangi tawanan kedua. Begitu seterusnya hingga semua pemain tertangkap. Pemain lainnya dapat membebaskan pemain yang tertawan dengan cara menepuk gandengan tangan pemain tersebut sambil berteriak “Kitta!” (“Putus!”). Kecuali tawanan yang belum dibebaskan, semua bekas tawanan dalam “mata rantai” harus berlari menjauh dengan sekencang-kencangnya. Penjaga pos memerintahkan mereka untuk berhenti dengan mengucapkan kata “Stop!” Kepada pemain yang baru saja berhasil membebaskan tawanan, penjaga pos menanyakan jumlah langkah yang boleh dilakukannya. Berdasarkan jawaban pemain (biasanya antara 3 hingga 10 langkah), penjaga pos melangkahkan kaki lebar-lebar untuk mendekati para pemain. Pemain yang berada di dekatnya ditepuk untuk dijadikan penjaga pos yang baru.

Show More

William

Otakurei.com Writer n Editor

Close