Budaya Jepang

Japanese Culture : Koinobori

Koinobori adalah bendera berbentuk ikan koi yang dikibarkan di rumah-rumah di Jepang oleh orang tua yang memiliki anak laki-laki.

Pengibaran koinobori dilakukan untuk menyambut perayaan Tango no Sekku. Tango no Sekku merupakan sebuah tradisi bagi keluarga yang mempunyai anak laki – laki diwajibkan untuk mengibarkan Koinοbori ini bertujuan agar anak laki – laki mereka dapat menjadi seseorang yang sukses kelak.

Satu set Koinοbori terdiri dari ryūdama, yaguruma, fukinagashi, dan bendera-bendera ikan koi.

  • Ryūdama (bola naga)
Bola yang bisa berputar dipasang di ujung paling atas tiang tempat mengibarkan Koinοbori.
  • Yaguruma
Roda berjari-jari anak panah yang dipasang di bawah ryūdama. Ryūdama dan yaguruma dipercaya sebagai pengusir arwah jahat.
  • Fukiganashi
Sarung angin berhiaskan panji-panji lima warna (biru, merah, kuning, putih, dan hitam) atau gambar ikan koi. Fukinagashi melambangkan 5 unsur (kayu, api, air, tanah, dan logam), dan dipercaya sebagai penangkal segala penyakit.
  • Koinοbori hitam (magoi)
Koinobori berwarna hitam yang melambangkan ayah dikibarkan di bawah fukinagashi.
  • Koinοbori merah (higoi) dan koinobori warna lainnya
Koinοbori lain yang berukuran lebih kecil dikibarkan di bawah Koinοbori merah. Pada zaman sekarang, koinobori merah melambangkan ibu, koinobori biru melambangkan putra sulung, dan Koinοbori hijau melambangkan putra kedua.


Asal Usul Koinοbori

Tradisi pengibaran Koinοbori di halaman rumah dimulai oleh kalangan samurai pada pertengahan zaman Edo. Mereka memiliki tradisi merayakan Tango no Sekku dengan memajang peralatan bela diri, seperti yoroi, kabuto, dan boneka samurai. Selain itu, mereka membuat Koinοbori dari kertas, kain, atau kain bekas yang dijahit dan digambari ikan koi. Koinοbori dibuat agar bisa berkibar dan menggelembung bila tertiup angin.

Lukisan Koinοbori asal zaman Edo oleh Hiroshige (Bukit Suruga dan Jembatan Suido) dari Seratus Pemandangan Terkenal dari Edo

Pada awalnya, orang Jepang hanya mengibarkan Koinοbori berwarna hitam yang disebut magoi (真鯉?). Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putra sulung dalam keluarga. Sebagai hiasan yang dibuat untuk meramaikan perayaan, Koinοbori warna lain juga berangsur-angsur mulai dibuat, dan semuanya melambangkan anak laki-laki dalam keluarga. Sejak zaman Meiji, Koinοbori berwarna merah yang disebut higoi (緋鯉?) mulai dikibarkan untuk menemani koinobori berwarna hitam. Tradisi pengibaran Koinοbori biru dimulai sejak zaman Showa. Ukuran Koinοbori biru (kogoi, 子鯉) lebih kecil dari Koinοbori merah atau hitam, dan melambangkan anak koi.

Pada zaman sekarang sering dijumpai Koinοbori warna hijau dan oranye yang dimasudkan sebagai anak-anak koi. Di beberapa tempat di Jepang, Koinοbori bukan saja milik anak laki-laki. Koinοbori yang melambangkan adanya anak perempuan dalam keluarga juga ingin ikut dikibarkan. Tersedianya koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki anak perempuan.

Pada 1931, pencipta lagu Miyako Kondo menulis lagu berjudul “Koinοbori”. Dalam lirik lagu tersebut, koinobori yang besar dan berwarna hitam adalah bapak koi dan koinobori warna lain yang lebih kecil adalah anak-anak koi.[1] Konsep dari lirik lagu tersebut diterima secara luas di tengah rakyat yang sedang di bawah pemerintahan militer. Seusai Perang Dunia II, peran wanita makin penting, dan koinobori warna merah dipakai untuk melambangkan ibu koi. Satu set koinobori akhirnya secara lengkap melambangkan keluarga yang utuh: bapak, ibu, dan putra-putrinya. Hingga kini, lagu “Koinοbori” ciptaan Miyako Kondo tetap dinyanyikan anak-anak, namun liriknya tetap sama seperti ketika diciptakan pada tahun 1931

Sumber

Tags
Show More

William

Otakurei.com Writer n Editor
Close