Budaya Jepang

Japanese Culture : Natto

Natto adalah makanan tradisional Jepang yang terbuat dari biji kedelai yang difermentasi dengan Bacillus subtilis, biasanya dimakan untuk sarapan. Sebagai sumber protein dan probiotika yang kaya, natto dan miso dulunya merupakan sumber gizi utama pada zaman feodal di Jepang. Tidak semua orang menyukai makan natto karena tidak menyukai bau dan aromanya yang kuat, atau teksturnya yang licin. Di Jepang, nattο paling disukai oleh orang di wilayah timur, termasuk wilayah Kanto, Tohoku, dan Hokkaido.

 


Manfaat mengkonsumsi Natto :

Masyarakat Jepang percaya bahwa nattο sangat berperan untuk kesehatan tubuh manusia. Natto mengandung senyawa pyrazine. Senyawa ini yang menimbulkan aroma khas yang tajam pada natto.

Pyrazine berfungsi untuk melakukan pembekuan darah. Nattο juga mengandung enzim protease yang juga dapat mengurangi pembekuan darah baik oleh fibrinolisis langsung dari pembekuan, dan menghambat plasma protein inhibitor plasminogen aktivator. Enzim ini juga dapat membantu untuk menghindari trombosis, seperti misalnya saat terjadi serangan jantung, emboli paru, atau stroke.

Nattο merupakan sumber vitamin K yang sangat tinggi, serta mengandung kalsium yang baik untuk mencegah terjadinya osteoporosis. Tidak hanya itu saja, nattο juga sangat baik untuk kesehatan kulit, membantu menjaga kelembaban kulit sehingga tampak awet muda dan sehat.


Sejarah bagaimana Natto ditemukan:

Sekitar seribu tahun yang lalu seorang ksatria bernama Minamoto Yoshiie menemukan dan mencicipi kacang kedelai rebus yang tercecer pada jerami dan sudah berfermentasi. Terlihat kurang meyakinkan bentuk dan bau nya, namun minamoto Yoshiie tetap mencobanya dan merasakan rasa makanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Begitulah cara nattο ditemukan untuk pertama kali nya.


Cara memakan Natto :

Banyak orang memakan nattο dengan cara klasik, yakni dibumbui kecap. Ada yang suka memakannya dengan selai acar atau daun bawang cincang, dan yang lain menambahkan ganggang laut atau telur mentah. Nattο enak dimakan dengan nasi panas. Bisa juga dihidangkan dengan spageti, mi Jepang, dan bahkan sup. Ada yang suka menaruhnya di atas roti yang diolesi mentega. Apabila dihidangkan dengan nasi, sebaiknya kacangnya betul-betul teraduk. Semakin diaduk, semakin banyak lendir yang dihasilkan.

Show More

William

Otakurei.com Writer n Editor
Close