Budaya Jepang

Japanese Culture : Teru Teru Bozu

Teru Teru Bozu merupakan sebuah boneka putih yang dibuat dari kertas atau kain putih yang digantung dengan benang diteras atau diluar jendela. Orang orang di jepang percaya dengan menggantungkan boneka Teru Teru Bozu dapat membuat hujan berhenti ataupun untuk menghindari cuaca hujan pada hari tersebut.

Warga Jepang biasanya menggantungkan boneka Teru Teru Bozu pada saat sehari sebelum festival besar digelar, dengan tujuan pada saat hari festival di adakan tidak terjadi hujan atau menjadi hari yang cerah.

Menurut tradisi yang diturunkan generasi ke generasi, ketika hari berikutnya setelah sehari memasang boneka ini adalah hari yang cerah, maka boneka ini akan digambari mata serta diguyur dengan sake suci sampai akhirnya di hanyutkan di sungai.


Mitos

Melihat kembali ke tahun 1990-an, teru teru bozu sempat memiliki lagu sendiri yang dirilis pada tahun 1921. Dalam lagu yang memiliki lirik yang mudah diingat anak-anak ini, tersirat sebuah makna berupa petunjuk, yakni petunjuk mengenai Mitos, asal-muasal, serta sejarah dari boneka ini sendiri. Dari lirik lagu tersebut, beberapa diantaranya menyimpulkan bahwa teru teru bozu ini mengacu pada seorang biksu yang dulunya dapat membawa cuaca cerah dengan menggunakan mantra-mantra tertentu. Akan tetapi, biksu ini harus kehilangan nyawanya setelah suatu hari biksu ini gagal dalam memenuhi janjinya untuk menyajikan cuara cerah di suatu hari tertentu kepada seorang bangsawan. Merasa dibohongi, bangsawan tersebut murka kemudian menjatuhi hukuman penggal kepada biksu tersebut. Dan katanya, kepala biksu yang dipenggal tersebut kemudian dibungkus dengan kain putih dan digantung diluar dengan tujuan untuk menghentikan hujan dan kembali memunculkan matahari. Tidak semengerikan yang di atas, beberapa orang juga ada yang percaya bahwa boneka teru teru bozu ini adalah boneka yang merepresentasikan seekor siluman dari gunung bernama Hiyoribo dimana ketika siluman tersebut muncul maka hari akan cerah.


Sejarah

Menurut sebuah asosiasi pengamat cuaca di Jepang yang juga menciptakan aplikasi cuaca populer bernama tenki, tradisi boneka penangkal hujan yang disebut teru teru bozu ini menyebar ke Jepang dari China ketika periode Heian (794 – 1185). Dan dari rekam jejak sejarah tersebut, dapat diketahui bahwa orang yang bertugas menciptakan cuaca cerah itu adalah seorang anak gadis yang membawa sapu dan bukanlah seorang biksu. Menurut cerita lengkapnya, pada zaman dahulu di Jepang pernah ada cuaca dimana hujan besar yang tidak berhenti-henti terus mengguyur suatu kota. Sebuah suara yang katanya dari surga pun terdengar. Suara tersebut mengatakan bahwa jika sampai tidak ada seorang gadis cantik berada diluar untuk dipersembahkan, maka kota tersebut akan ditenggelamkan. Seorang gadis cantik kemudian menjadi tumbal untuk dipersembahkan dengan salah satunya adalah dikirim ke luar sambil membawa selongsong sapu untuk secara simbolis mengirimnya ke surga dan menyapu awan hujan dari langit. Menjadi sebuah tradisi untuk mengenang gadis pemberani yang menjadi persembahan tersebut, setiap anak gadis di kota tersebut kemudian membuat figur gadis yang menjadi persembahan tersebut dari sebuah kertas. Dan figur kertas yang berbentuk boneka sambil membawa sapu ini kemudian digantung diluar untuk mengembalikan cuaca menjadi cerah dikala musim penghujan.

Tags
Show More

William

Otakurei.com Writer n Editor
Back to top button
Close